"Hahaha... Asik bener nih, kita punya pembantu baru." Seru seorang cowok dengan nyaring.
Vanta yang sedang menikmati makan siangnya di kantin kampus secara spontan menoleh ke arah empunya suara. Ada beberapa cowok di meja tengah−meja dan bangku yang didesain tinggi seperti di kafe−sedang menertawakan temannya yang lain. Setelah menoleh singkat, Vanta kembali melahap makan siangnya. Mood-nya hari ini sedang buruk. Tugas kampusnya−yang untuk mengerjakannya memakan waktu beberapa hari dan sampai bergadang pula−baru selesai tadi pagi. Tak ayal rasa kantuk menyergapnya hingga siang ini. Ingin sekali menikmati suasana yang tenang biarpun tidak ada waktu untuk merebahkan kepala. Namun sesaat kemudian terdengar lagi suara berisik dari arah yang sama.
"Bego!! Kan tadi gue udah bilang jangan pake saos! Budek lo ya?!"
Kali ini Vanta−gadis berambut panjang sepunggung dengan mata hitamnya yang bulat−benar-benar merasa terganggu dengan si empunya suara itu. Berisik banget! Keluhnya dalam hati.
"Ada apa sih jes, daritadi berisik banget?" tanya Vanta penasaran pada gadis yang duduk berhadapan dengannya.
"Itu, kakak kelas ngerjain temennya. Kasihan deh, Ta."
Vanta kembali menoleh ke sumber gaduh itu. Dan beberapa penghuni kantin juga terlihat ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana.
"Man, kayaknya tadi gue nggak denger lo bilang gitu deh." Goda seorang cowok yang jelas sudah tahu kalau cowok gendut tadi hanya dikerjai temannya.
"Oh ya?? Wah, sorry deh kalo gitu." Cowok itu mengangkat kedua tangannya di depan dada sambil mengucapkan permintaan maaf dengan ekspresi tanpa bersalah. Malah terlihat seperti meledek.
Vanta yang sedari tadi dalam mood buruk, kesal juga mendengarnya. Berisik. Ia tidak suka kegaduhan. Dan lagi cowok itu sudah keterlaluan ulahnya, kasihan cowok gendut yang dikerjai oleh cowok itu. Wajahnya pucat dan terlihat takut.
"Jes, gue beli lemonade dulu ya."
Tanpa menunggu jawaban sobatnya, ia bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan mejanya.
Ia melewati kerumunan itu, dengan sopan ia mengucapkan permisi kepada cowok yang berdiri di dekat bangku tinggi. Cowok itu adalah temannya si pembuat kegaduhan. Setelah cowok yang disapanya itu maju selangkah, Vanta melintas di belakangnya ke arah si penjual lemonade. Gadis itu memesan pesanannya sambil menunggu, tidak berapa lama si penjual menyodorkan segelas lemonade dingin kepadanya. Vanta membayar dengan uang pas, kemudian hendak kembali ke mejanya. Tapi ternyata bukannya melangkah ke mejanya, ia malah berjalan menuju sekelompok cowok tadi. Saat di sebelah kirinya ia lihat tersangka utama−si cowok pembuat gaduh−, ia menumpahkan lemonadenya dibarengi suara "aduh" agar terlihat tidak sengaja.
Tiba-tiba sesuatu yang dingin mengenai kepala Alvin, mengalir sampai membasahi kemeja merah bermotif kotak-kotak hitam yang dikenakannya. Kejadian itu hanya sekelebat mata. Cowok yang kini tengah berada dalam keadaan basah kuyup itu memejamkan mata sesaat, kemudian menoleh ke belakang.
"Sorry, gelasnya licin." Vanta meminta maaf dengan santai.
Namun kesengajaannya terbaca oleh cowok itu. Ia beranjak dari kursinya dan membelalak. Teman-temannya menoleh ke arahnya dan Vanta.
"Lo sengaja ?!" Bentaknya.
Setelah bentakkan cowok itu, kini bukan hanya teman-temannya saja yang melihat mereka. Semua mata yang ada di sana memandang. Kini Vanta dan cowok itu menjadi tontonan. Jessi yang ada di bangkunya terkejut. Dalam waktu seketika sobatnya jadi ‘pusat perhatian’. “Astaga Tata!” Desis Jessi. Jessi biasa memanggil Vanta dengan panggilan Tata. Karena nama panjangnya Vanta Lollyta, jadi Jessi mengambil nama panggilan itu dari setiap suku kata di belakang nama Vanta. Jessi panik bukan main menemukan pemandangan yang dilihatnya. Temannya sedang dalam masalah. Cowok gendut yang telah kembali membawa semangkuk bakso itu gemetar mendengar bentakkan si pembuat gaduh.
”Kan tadi gue udah bilang kalo gue nggak sengaja.” Kali ini ada sedikit penekanan pada nada bicara Vanta.
“Berani banget lo! Anak jurusan mana sih?” Cowok itu menatap cewek di depannya dengan geram.
“Bukan urusan lo! Dan, gue udah bilang gue nggak sengaja! Lagian itu karma lo kali, gara-gara ngerjain anak orang.”
Mendengar kata-kata Vanta barusan, cowok itu semakin yakin kalau tindakkan Vanta tadi memang jelas disengaja. Sialan ni cewek! Batinnya dalam hati. Ia melihat seorang cewek berjalan dengan tergesa ke arahnya, dan menarik cewek yang tadi mencari masalah dengannya.
”Ta, keluar yuk. Udah...” Bujuk cewek itu sambil menarik lengan Vanta.
Sebelum keluar dihampirinya cowok gendut yang tengah berdiri ketakutan sambil memegang semangkuk bakso. Vanta merebut mangkuk bakso itu dari tangannya. Kemudian meletakkannya di meja cowok pembuat gaduh dengan sentakkan keras hingga memunculkan suara benturan antara bagian bawah mangkuk beling dan meja.
”Makan tuh sekalian sama mangkoknya!” Setelah kalimat terakhirnya, ia meninggalkan cowok itu. Dilihatnya sekilas cowok itu menatapnya dengan sorot mata tajam.
Alvin mengikuti kepergian cewek spontan itu dengan pandangan mata. Akan diingatnya terus wajah cewek yang telah mempermalukannya diantara banyak mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kantin, serta para pedagang. Gue harus bikin perhitungan sama tu cewek!
”Siapa sih tu cewek?! Elo-elo pada ada yang tau nggak?” Tanya Alvin pada temannya yang menggerombol didekatnya sambil mengelap wajah dengan tisu..
Masih dengan wajah terpana, salah satu temannya−Edo−menjawab, ”Nggak tau gue.” Karena jarang banget dia melihat pemandangan kayak gini, nggak pernah malah. Siapa sih yang berani cari masalah dengan Alvin?
”Gue juga baru liat,” sambung Andre.
Toto yang nama sebenarnya adalah Binarto berpikir sejenak. Tiga detik kemudian ia mengeluarkan suara, ”Ah, gue tau! Kayaknya anak semester satu deh.”
”Masih semester satu?” Alis Alvin berkerut tidak percaya. ”Baru semester satu aja udah belagu banget ya.”
”Sabar Vin, sabar. Istighfar,” Andre menepuk pundak Alvin dengan wajah sok prihatin.
“Tapi jurusan mana ya tu cewek? Gue nggak tau tuh kalo itu.” Sahut Toto setelah tertawa pelan melihat Andre.
”Kalo gitu itu tugas lo. Lo harus cari tau. Gila aja gue dibikin malu di kantin gini. Pas lagi rame pula. Ckck... Gue nggak terima,” ditundukkannya kepala untuk melihat bajunya yang basah.
“Terus kalo udah tau, lo mau ngapain?” Tanya Toto.
”Ya mau bales tu cewek lah... Gimana sih lo? Pokoknya gue mesti kasih peringatan tu cewek! Jangan ikut campur urusan seniornya. To, Ndre, Lo cari tau ya info tentang cewek itu.”
”Gue usahain deh ya. Nggak janji.” Jawab Andre ragu-ragu. Soalnya cewek semester satu kan banyak, apa lagi dia juga belum tentu masih bisa mengingat wajah cewek itu besok. Kalau menurutnya, tampang cewek itu biasa aja, nggak mencolok juga. Ya nggak jelek sih, tapi biasa deh menurut dia. Cuma memang modal nekatnya aja yang bikin Andre kagum. Alvin yang anak rektor, sejak semester pertama cowok ini masuk, ditakuti oleh anak-anak di kampus. Bukan karena kedudukan orang tuanya saja. Tapi kalau lagi uring-uringan, mungkin dia bisa aja nebas kepala orang dengan samurai. Dan sekarang Alvin sudah semester lima, kekuasaannya otomatis meluas.
*****
Jessi menarik Vanta sambil setengah berlari menjauhi kantin, sementara Vanta tidak sadar kalau cowok gendut tadi juga ikut ia tarik keluar. Jessi menghentikan langkahnya disebuah lorong menuju tempat parkir dengan mendadak. Angin berdesir kencang siang itu, menghempas rambut Vanta dan Jessi.
”Ya ampun Ta, lo ngapain sih tadi?!” Pekik Jessi dengan suara tercekat.
“Abis gue kesel sih liat itu cowok!” Masih tetap digamitnya lengan cowok gendut tadi, cowok itu kini hanya diam, bingung.
“Aduh Ta, bisa kena masalah kita nantinya. Lo nggak kira-kira dulu ya kalo ngomel. Eh, bukan kita sih, elo doang yang kena. Secara, yang diliat dia cuma elo. Eh, tapi tadi kan gue juga ke sana narik lo! Aduh... Gimana ini?!” Wajah Jessi terlihat panik sekali. Ia tidak berhenti mondar-mandir di depan Vanta.
Vanta yang tiba-tiba sadar kalau sejak tadi ia menggenggam pergelangan cowok gendut itu seketika melepasnya. Namun cowok itu masih tidak bergeming di tempatnya. Kali ini Vanta yang benar-benar bingung melihat reaksi Jessi. ”Kenapa sih? Heboh banget lo.”
”Lo mau tau kenapa?” Jessi berhenti mondar-mandir dan melotot ke arah sobatnya. Ia melihat jelas sarat keingin tahuan pada wajah Vanta. Setelah tarik napas sebentar, ia melanjutkan dengan nada penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan, ”Dia... anak... rektor!”
Kontan Vanta terkejut, ia membelalak sebisa mata bulat itu membuka. Mungkin ia sendiri sekarang bisa merasakan telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin.
”Yang bener lo?” Kepanikan kini juga menyergap Vanta.
”Tanya aja sama si gendut. Dia temennya kan?”
Vanta langsung menoleh, ”Nama lo siapa?”
“Na... Nathan.” Ujar cowok gendut itu dengan terbata-bata.
“Semester berapa?”
“Lima.”
“Cowok yang ngisengin lo tadi semester lima juga?” Nathan menjawab dengan anggukan.
“ Dia... bener anak rektor?”
“Iya, bener.”
Angin yang berhembus didekatnya terasa lebih dingin, perutnya sakit menahan ketegangan, ”Astaga! Gimana nih Jes?” Diguncangnya kedua bahu Jessi dengan cepat.
”Aduh! Makanya, kalo beasiswa lo dicabut gimana?” Jawab Jessi sambil melepaskan tangan Vanta dari pundaknya.
“Ih, jangan nakut-nakutin dong!”
”Yee, gue nggak nakut-nakutin. Cuma kan...,” kalimat Jessi terhenti. Ia tidak bisa memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi nanti.
Vanta menghela napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. ”Semoga nggak berpengaruh ke beasiswa gue,” kemudian diliriknya Nathan, ”Nathan, lo temen sekelas cowok tadi?”
”Ng...Iya,” Nathan menjawab takut-takut.
”Kalo ada apa-apa, tolong info ke gue ya. Simpen nomor gue.”
Nathan mengangguk kemudian dikeluarkannya ponselnya.
>> CONTINUED <<
Komentar
Posting Komentar